YUSTISI.ID Lampung (17.06.2025) – Hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) untuk masuk ke Sekolah Menengah Atas (SMA) unggulan di Provinsi Lampung menyisakan keprihatinan yang mendalam. Dari 3.863 siswa SMP yang mengikuti seleksi pada 11–12 Juni 2025, hanya 10,34 persen yang mampu meraih nilai di atas 50. Artinya, sebanyak 89,66 persen siswa gagal melampaui batas tersebut, sebuah angka yang mencerminkan kondisi yang memprihatinkan dalam dunia pendidikan kita saat ini.
Hasil resmi TKA diumumkan serentak pada Sabtu, 14 Juni 2025, dan menjadi tamparan menyakitkan bagi banyak pihak, terutama mereka yang berharap pada masa depan cerah generasi muda Lampung.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Lampung, Thomas Amirico, tak mampu menyembunyikan rasa prihatinnya. Ia mengungkapkan bahwa hasil TKA ini memperlihatkan adanya kesenjangan besar antara nilai rapor dan kemampuan akademik nyata para siswa.
“Selama ini yang menjadi persyaratan adalah rapor. Kali ini ditambahkan TKA, dan ternyata hasilnya tidak sejalan,” kata Thomas lirih, Senin, 16 Juni.
TKA yang dirancang untuk mengukur kemampuan objektif siswa dalam matematika, bahasa Inggris, dan materi umum, diselenggarakan melalui sistem Computer Assisted Test (CAT). Hasilnya dapat langsung diketahui dan diumumkan secara daring melalui video masing-masing satuan pendidikan.
Namun angka-angka yang muncul membuat hati terenyuh:
-
Nilai 81–90: hanya 3 siswa (0,08%)
-
Nilai 71–80: 25 siswa (0,65%)
-
Nilai 61–70: 73 siswa (1,89%)
-
Nilai 51–60: 299 siswa (7,74%)
-
Nilai 41–50: 859 siswa (22,50%)
-
Nilai 31–40: 1.450 siswa (34,54%)
-
Nilai 21–30: 1.027 siswa (26,33%)
-
Nilai 11–20: 112 siswa (2,90%)
-
Nilai 1–10: 3 siswa (0,08%)
-
Nilai 0: 12 siswa (0,31%)
Sebagian besar siswa hanya mampu meraih nilai di bawah 40, dan sebanyak 12 siswa bahkan mendapatkan skor nol—angka yang membekaskan luka tersendiri bagi para pendidik dan orang tua.
Thomas Amirico menegaskan bahwa data ini harus menjadi cermin refleksi menyeluruh terhadap proses pembelajaran di SMP. Ia menyoroti pentingnya kejujuran dalam penilaian dan mendorong para guru untuk tidak lagi terjebak dalam subjektivitas.
“Jangan sampai karena kedekatan—misalnya orang tuanya baik—guru menjadi tidak objektif dalam memberikan nilai,” tegasnya.
Ia menutup dengan harapan yang terasa pilu namun penting: bahwa hasil ini harus menjadi titik balik untuk memperbaiki sistem pendidikan, bukan sekadar disesalkan. Masa depan generasi muda Lampung tidak boleh dibiarkan suram. (Aang/Red)














