OKU SELATAN – Akhir-akhir ini makin ramai petani di oku selatan mengeluhkan mahalnya harga racun rumput dan sejumlah sarana pertanian lainnya. Sementara itu harga hasil panen dianggap selalu lebih murah atau di bawah pasaran bila dibandingkan penjualan di kabupaten lainnya. Demikian diungkapkan sejumlah narasumber kepada wartawan yustisi.id kamis 10 hingga 11 november 2021.
Andi (38) petani kopi asal kisam tinggi mengaku kaget atas melonjaknya harga racun rumput dan makin sulitnya mendapatkan pupuk subsidi saat ini. sebulan lalu ia membeli racun rumput merek alphatek 175 ribu per drejen 5 liter namun kemarin harganya sudah 275 ribu. Racun merek see top sebelumnya ia beli 65 ribu perliter menjadi 90 ribu. Sedangkan untuk beli pupuk urea 3 karung saja ia mengaku susahnya minta ampun. “Terpaksa saya berutang pupuk urea kepada petani lain harga 175 ribu persak”, keluh bapak 2 anak ini.
Senada yg diungkapkan juanda hairul dalam cuitannya di facebook. Katanya saat ini petani oku selatan menjerit karena harga herbisida naik tidak tanggung-tanggung kisaran 80 hingga 85 persen. Baginya cukup sudah penderitaan petani okus, sebab hasil panen sering kali sedikit, harga sarana pertanian menggila dan harga jual hasil tani sering kali murah. “Sehingga tidak sebanding dengan biaya operasional”.
Di tempat terpisah M. Hamid (47) petani karet asal muaradua mengeluhkan rendahnya harga karet di oku selatan. Ia mencontohkan harga yg ia dapatkan atas penimbangan karet minggu lalu 9000 rupiah saja perkilonya. Sedangkan penjualan karet miliknya di kabupaten lahat minggu lalu 12.000 perkilo. Padahal soal kualitas sama saja bagusnya. “Karet sama-sama bersih dan ditimbang 1 minggu sekali”, terangnya.
Hal senada diungkap Rudi (39) petani sawit asal muaradua. Ia membandingkan penjualan sawit miliknya 2200 rupiah perkilo dengan penjualan sawit saudaranya di kabupaten Banyu Asin yg mencapai 2700 perkilo. “Harga sawitpun bisa diakses melalui komentar anggota group facebook sawit indonesia”,paparnya.
Ketua kelompok tani Cahyo Utomo, Kelurahan Batu Belang Jaya, Eli Periandi (40) membenarkan keluhan petani tersebut. menurutnya perlu ada perhatian dari dinas terkait untuk mencari akar masalah dan solusinya.
Sementara itu kasi humas Lembaga Advokasi Konsumen Indonesia (LAKI) cabang oku raya, Novrizal menyayangkan minimnya perhatian banyak pihak terkait keluhan petani di oku selatan ini. Pihaknya akan melakukan pengecekan di lapangan guna memantau keluhan petani tersebut dan akan mencari akar masalahnya. Untuk diketahui LAKI baru berdiri di oku selatan dan masih melengkapi sejumlah pemberkasan. Walau demikian, Novrizal menghimbau agar petani atau seluruh masyarakat oku selatan jangan ragu melaporkan setiap keluhan seputar produk dan layanan publik yg dapat merugikan masyarakat sebagai konsumen. ” Sekretariat LAKI berlokasi di jl. A. Yani tebing gading, tidak jauh dari simpang pemkab, kota muaradua kab. Oku selatan”, terangnya.
Sementara itu kepala dinas pertanian dan kasubid sarana dan prasarana pertaniaan saat hendak dikonfirmasi saat jam kerja, menurut sejumlah staffnya mereka tidak ada di tempat. (midi)














